The Rose Family




« vieux

Rosie’s Pet

Seekor kelinci kecil berwarna aprikot bernama Humpy. Punya kepandaian mencari harta karun tersembunyi!

Surtama Rosie

Myself when young did eagerly frequent
Doctor and Saint, and heard great Argument
About it and about: but evermore
Came out by the same Door as in I went

-Omar Khayyam-
_______________________________________________________________________

“ROSIIIIEEEE!!”

“Ssst… jangan berisik, Humpy,” bisik seorang gadis kecil berambut seputih salju di balik semak-semak mawar yang rimbun pada kelinci kecilnya. “Nanti ketahuan Mama Goddess.”

“ROOOOSSSIIIIEEEE!!”

Ia memeluk si kelinci kecil semakin rapat, menundukkan kepalanya sedemikian rupa supaya ia tak terlihat di tempat persembunyiannya. Ia, Rosie Calypso, seorang gadis kecil semi-albino bermata violet. Sejak ia bisa mengingat banyak hal, ia sudah diberitahu bahwa keberadaannya di The Paradise adalah karena ia dijual oleh orangtuanya yang miskin demi mendapatkan uang untuk melanjutkan kehidupan mereka di masa tua. Mama Goddess dan Paman Wilson—si pemilik The Paradise—juga berkata bahwa orangtuanya adalah orang-orang dewasa yang memalukan dan tidak patut dicontoh. Mereka juga bilang, Rosie harus bersyukur karena telah dibeli oleh mereka untuk dididik dan dilatih menjadi seorang Goddess berkharisma di masa depan.

Goddess adalah julukan untuk para wanita-wanita muda yang bekerja di The Paradise. Mereka semua sangat cantik, wajah mereka mulus bagaikan porselen paling mahal di dunia, rambut mereka semua panjang dan tergerai mengilap seperti dewi khayangan. Mereka juga sangat pandai, tutur katanya halus dan gerak-geriknya begitu halus. Rosie suka memerhatikan mereka berdandan, bertanya ini dan itu sampai puas, mengagumi ketika mereka menarikan banyak tarian khas negara-negara di dunia. Rosie kecil ingin bisa menjadi seperti mereka saat besar nanti.

Tapi itu nanti. Sekarang Rosie masih ingin menikmati masa kanak-kanaknya.

“Kemana lagi anak itu?!” Mama Goddess menggerutu, membanting-banting tinju ke rok hitamnya yang panjang sampai ke mata kaki. “Setiap kali waktunya menghapal puisi, dia pasti menghilang!”

Rosie terkikik pelan di tempat persembunyiannya. Ia sudah janji menemui Gavin di taman kecil yang terletak dekat The Paradise untuk bermain. Hari ini rencananya, ia akan menunjukkan kehebatan Humpy mengendus harta karun yang tersembunyi di dalam tanah. Gavin pasti akan sangat iri padanya lalu minta dibelikan kelinci juga pada Paman David. Tapi sebelum itu, Mama Goddess harus masuk dulu ke dalam.

“Aduuuuh!”

Tiba-tiba saja sesuatu mendarat di atas kepalanya hingga ia berteriak. Begitu tersadar akan kesalahannya, semua sudah terlambat. Mama Goddess menyadari keberadaannya.

Aaaah… habis sudah!!

“Di situ kau rupanya, Rosie!”

Mama Goddess melangkah cepat menghampiri. Suara rumput yang patah terinjak pun terdengar. Rosie memejamkan mata, lupa kalau ada sesuatu yang masih bertengger di atas kepalanya.

“Am—”

“Hm? Rosie, rupanya kau sudah waktunya pergi ke Hogwarts,” ujar Mama Goddess. Suaranya terdengar melembut dan beban di atas kepala Rosie terangkat.

“Hogwarts?” Rosie mendongakkan kepala, melihat seekor burung hantu di tangan Mama Goddess yang sedang berusaha membuka ikatan erat di kakinya. Gadis kecil itu berdiri dan menatap pemandangan di depannya dengan ketertarikan besar. “Sekolah sihir itu? Sekolah sihir yang ada Harry Potternya itu?”

Mama Goddess mengangguk. Ikatan di kaki si burung hantu telah lepas dan burung hantu itu pun pergi setelah menyelesaikan tugasnya.

“Benar, Rosie. Sekolah sihir yang itu. Kau akan ke sana tanggal 1 September nanti,” wanita berambut hitam mengilat itu menyerahkan amplop di tangannya pada Rosie. “Baca surat itu nanti setelah kau selesai memberantas jembalang di halaman belakang. Banyak sekali tanaman yang layu di sana.”

“Kenapa aku harus mengurusi jembalang, Mama?!” Rosie kecil protes, “Aku sudah janji pa—”

Ia berhenti bicara, Mama Goddess memberinya tatapan yang berarti ucapannya tidak boleh dibantah.

“Itu hukuman karena kau sudah coba-coba membolos pelajaran sastra hari ini, Rosie. Jangan kira karena kau dapat surat dari Hogwarts lantas kau bebas dari hukuman.”

Rosie kecil menunduk pasrah, tangannya memainkan telinga panjang si kelinci.

“Baiklah,” ujarnya cemberut. “Hmm… Mama…”

“Yes?”

“Aku boleh ajak Gavin membantuku?”

Mama Goddess mengernyit—itu artinya tidak—lalu berjalan meninggalkan Rosie, masuk ke dalam gedung The Paradise.

“Sialnya aku hari ini,” Rosie merutuk sambil berjalan lunglai ke halaman belakang. Dipandanginya amplop kekuningan itu dengan malas. Namanya terukir di sana. Rosie Calypso. “Tidak, tidak. Aku beruntung. Karena beruntung jadi kena sial. Tapi aku beruntung. Pokoknya beruntung.”

Menunduk memandangi kelinci kecilnya yang mendongak menatapnya.

“Ya kan, Humpy?”
_____________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________________

FYI. Surat dari Hogwarts yang ditujukan untuk Rosie sebenarnya tertulis nama asli pada amplopnya, yaitu Lilith Ruby Rose tapi sama Mama Goddess dimantrain non-verbal jadi nama Lilith Ruby Rose berubah menjadi Rosie Calypso di amplop dan isi suratnya karena Rosie tidak tahu nama aslinya bahkan siapa orangtuanya. Mantra ini bisa dikembalikan dengan mantra “Rennervate”.

Siggy dan ava:

Siggy dan ava:

visu Gemma Ward as Rosie Calypso

visu Gemma Ward as Rosie Calypso